Siapa sih yang tak mengenal sosok
(Alm) K.H Abdurrahman Wahid, atau yang
sering kita sapa Gus Dur ini.Sosok bapak yang penuh dengan kesederhanaan namun banyak mencetuskan ide-ide cemerlang. Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Selain Gus Dur, adiknya Gus Dur juga merupakan sosok tokoh nasional.
Gagasan
dan pemikirannya jauh melebihi apa yang ada di zamannya. Gaya humoris dan
ceplas ceplosnya terkadang menimbulkan kontroversi , namun beliau adalah orang
yang sangat menghargai segala perbedaan.
Yang saya s’lalu saya
ingat dan ingin s’lalu saya terapkan 1 diantara ke-3 dari prinsip hidupnya
adalah
“Tidak membenci orang, sekalipun disakiti”.Prinsip ini sederhana namun sarat akan makna.
“Tidak membenci orang, sekalipun disakiti”.Prinsip ini sederhana namun sarat akan makna.
Gus
Dur merupakan salah tokoh bangsa yang berjuang paling depan melawan radikalisme
agama. Ketika radikalisme agama sedang kencang-kencangnya bertiup, Gus Dur
menantangnya dengan berani. Dia bahkan mempersiapkan pasukan sendiri bila harus
berhadapan melawan kekerasan yang dipicu agama. Gus Dur menentang semua
kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dia juga pejuang yang tidak mengenal
hambatan.
Gus Dur
dalam pemerintahannya telah menghapus praktik diskriminasi di Indonesia. Tak
berlebihan kiranya bila negara dan rakyat Indonesia memberikan penghargaan
setinggi-tingginya atas darma dan baktinya. Layaknya kiranya Gus Dur mendapat
penghargaan sebagai Bapak Pluralisme dan Demokratisasi di Indonesia.
Gelar kehormatan dan Penghargaan
Lain
Dikancah internasional, Gus Dur banyak memperoleh gelar Doktor
Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dibidang humanitarian, pluralisme,
perdamaian dan demokrasi dari berbagai lembaga pendidikan diantaranya :
- Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)
- Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)
- Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)
- Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)
- Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)
- Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
- Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)
- Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)
- Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)
- Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)
Penghargaan-penghargaan
lain :
- Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)
- Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
- Bapak Tionghoa Indonesia (2004)
- Pejuang Kebebasan Pers
Gus Dur memang bapak “Sederhana” namun berotak emas yang banyak menginspirasi kita..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar