Diko
Sudah dua bulan ini aku merasakan suatu sikap yang tak biasanya pada sahabatku sendiri. Tingkah lakunya sangatlah berbeda dari sosok Diko yang dulu aku kenal periang, agresif dan ramah. Kini berubah 180 derajad, perubahan itu aku rasakan akhir – akhir ini. Sikapnya berubah drastic, Diko yang dulu aku kenal sebagai sosok orang yang periang, agresif dan ramah. Kini tak ku jumpai lagi. Akhir – akhir ini dia lebih suka menyendiri dan seakan tak ada sedikitpun perhatiannya untukku. Berulang kali aku bertanya atas perubahan sikap yang terjadi padanya. Tapi, tak ada jawaban lain selain kata “ Michyo… aku tidak apa – apa. Tak usah kau pikirkan aku lagi ”. Rasanya aku sangat bosan tatkala mendengar kata itu – itu saja yang dilontarkan Diko.
Diko, ntar sore temenin aku ke Aloen – aloen Ngawi yach..!! gag tau nee.., suasana hatiku lagi suntuk!!! Da apa Yho.. tumben kamu sedih.. biasanya kamu khan gak pernah se susah ini…
Iya., tadi aku da masalah di sekolah.
“ memangnya perkara kayak apa seech.. yang bias buwat hatimu gundah!!!
Ntar deehh…, ku ceritain disana. Sekalian kita makan Jagung bakar ma segelas Es Deghan!!!!
Iya deeh.. ku usahain…..
Janji ya Dik!!
Aahh!! Kamu Dik, masa kayak geetow jawabnya.., jam empat sore ku tunggu di perempatan gang yach…
Gak janji deech…
Sore itu kutunggu mulai jam tiga seperempat sampai jam enam seperempat. Ku tunggu Diko tapi, apa yang ku dapat.. tak nampak batang hidungnya..
Kupencet nomor telephon Diko berkali – kali dan tak ada jawaban. Kuputuskan untuk pulang. Lagiyan sore itu hujan deras telah membasahi tubuhku!!
Aku pulang dengan kekesalan yang bercampur perasaan kecewa.
Akupun berfikir. “kok tega ya… seorang Diko, sosok yang s’lalu aku banggain. Sosok yang s’lalu memberi inspirasi untukku…. Tega lakuin ini padaku”.. “Diko…. Kamu dimana….????????????”
Waktu sekolah ku cari Diko, akan ku luapkan kemarahanku padanya.. tapi, hari itu Diko tidak masuk sekolah… keesokan harinya ku cari Diko di kelasnya, dan teman sekelasnya bilang padaku kalau Diko sudah dua hari tidak masuk sekolah karena sakit. Ku berfikir paling itu Cuma akal – akalan dari Diko untuk terhindar dari luapan kemarahanku. Kuputuskan pulang sekolah, aku akan ke rumah Diko untuk meluapkan kemarahanku padanya. Karena ia t’lah membuatku kecewa menanti dia. Kurelain tubuhku diguyur derasnya hujan hanya untuk menanti kedatangannya.
Siang hari aku kerumah Diko. Tapi, tak ada orang dirumahnya… hatiku semakin geram tatkala ku tak ketemu Diko. Beberapa hari kemudian mamanya Diko pulang ke rumahnya. Yang jarak rumah aku tak begitu jauh dari rumah Diko. Dan akupun langsung bergegas pergi kerumahnya. Setelah aku sampai dirumah Diko aku langsung bertanya pada Mamanya Diko. Tante, Diko kemana ya.. kok beberapa hari ini dia tak ada dirumah..!!!!
Tapi, jawaban apa yang aku dapat dari mamanya Diko. Hanya tatapan sinis yang aku dapat. Dengan hati yang kecewa kuputuskan untuk pulang ke rumah.
Dua hari kemudian, waktu aku pulang sekolah. Tak sampai aku melepas sepasang sepatu hitamku. Tiba – tiba, mamanya Diko datang ke rumahku. Beliau mengatakan bahwa keadaan Diko sedang sekarat di Rumah Sakit. Akupun kaget mendengar berita itu. Akupun bertanya, Diko sakit apa tante??...
Udah, gak usah Tanya – Tanya cepetan ganti baju dan sekarang kita pergi ke Rumah Sakit. Diko sudah menunggumu disana.
Bentar tante, aku pamit pada mama dulu!!
Iya… sesudah pamit pada mamamu kamu langsung menuju ke mobil tante ya…!!
I – iya tante.. aku langsung berlari kearah mama dan minta izin untuk pergi ke Rumah Sakit.
Setelah beberapa saat, aku dan mamanya Diko tiba di Rumah Sakit. Seketika itu aku langsung berlari menuju resepsionis untuk bertanya dimanakah letak kamarnya Diko dan tanpa ku hiraukan mamanya Diko yang tertinggal di belakang.
Setelah sampai di kamarnya Diko, kupeluk tubuh Diko yang terkulai lemas tak berdaya diranjang.
Diko berkata padaku..” Mafkan aku ya Yho.. kemarin aku tak menepati janjiku”.
“ Sudahlah Diko, tak apa – apa. Sekarang pikirkanlah kesembuhanmu!!”. Tak lama kemudian Dikaomengeluarkan sepucuk surat dari dalam sakunya.
“ Michyo, tolong simpan surat ii ya!!. Jangan kau baca sebelum kau sampai di rumah.
Setelah Diko menyerahkan surat itu. Tak lama kemudian, berhembuslah nafas terakhir Diko….
Innalilahi - wainnailaihi roji’un..
Ku ucapkan lafadz itu, dan langsung ku peluk tubuh Diko yang telah terbujur kaku. Tetes demi tetes linangan air mataku seakan telah menganak sungai… dalam hatiku menyesal, karena t’lah berprasangka buruk pada Diko. Padahal sebelumnya aku tak tahu, apa yang tengah terjadi pada Diko.
Pagi harinya dilaksanakan upacara pemakaman Diko. Setelah usai pemakaman, semua pelayat sudah mulai meninggalkan tempat pemakaman. Tapi aku masih disana, dan memeluk batu nisan Diko Kupeluk erat batu nisan itu. Dan ku berkata “ Selamat Jalan Sobatku ”.
Setelah usai memeluk batu nisan Diko, akupun pulang ke rumah. Sampai dirumah, aku langsung menuju kamarku. Kupandangi foto – foto kenagan masa laluku dengan Diko. Dan ku teringat akan sepucuk surat yang diberikan Diko untukku. Ku buka perlahan surat itu. Dan kubaca surat itu!!
Dear Michyo
Michyo….maafkan aku atas perubahan sikapku padamu. Aku tak ingin kau mengetahui penyakit yang ku derita. Kanker otak t’lah singgah ditubuhku. Aku takut kalau kau mengetahui penyakitku ini, kau akan mengkhawatirkan keadaanku. Dan nanti kau akan merubah sikapmu ke aku.
Sebenarnya sudah lama kupendam perasaanku padamu. Aku tak ingin mengungkapkannya, kalau itu hanya akan merusak persahabatan yang kita bangun sejak kecil. Yho, aku CINTA kamu…. Aku ingin kau hati – hati dalam memilih pasangan, karna tak semua cowok berhati baik. Jaga diri baek – baek untukku ya Yho….
Sekian dulu surat dariku. Dan kumohon jangan lupakan aku, pajanglah foto kenangan kita di kamarmu.
Salam sayang
Andicho
Setelah kubaca isi surat itu, aku langsung menuju makamnya Diko. Kupeluk erat batu nisan Diko, sambil berkata I LOVE YOU VERY MUCH !!!!!
Cinta kita akan selalu berjalan, seiring berjalannya waktu. Meskipun kau telah meninggalkan diriku untuk selama – lamanya……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar